Yanna D.K. : Melanglang Buana dgn Aksesori Logam
| Minggu, 07 Januari 2007 | Republika Online |
Dalam waktu dekat, ia akan terbang ke Tokyo untuk mempromosikan karya-karyanya.
Lebih berkarakter, memiliki ‘ruh’, dan etnik. Inilah kelebihan aksesori dari logam khususnya tembaga, kuningan, dan perak, dalam pandangan Yanna Diah Kusumawati. ”Ada kenikmatan tersendiri bagi saya, ketika membuat aksesori dan cenderamata dari bahan-bahan itu.”
Yanna memang bukan orang asing dalam bidang ini. Ia bahkan salah satu desainer aksesori logam terkemuka di negeri kita. Hasil karyanya tidak saja dinikmati para pecinta aksesori logam di Indonesia, tapi juga dikoleksi oleh para penyuka perhiasan logam di manca negara, seperti negara-negara Eropa, Timur Tengah, Cina, Australia hingga Amerika. Dalam waktu dekat, alumnus Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) ini akan terbang ke Tokyo, Jepang, untuk mempromosikan karya-karyanya.
Bermodal menggadaikan perhiasan sang ibu, Yanna merintis karier sebagai perajin aksesori dari tembaga, kuningan, dan perak sejak tahun 1996. Sejak awal, putri dari guru besar IKIP (UPI) Bandung, Prof Dr Santoso Sastroamijoyo ini tidak sekadar mendesain logam. Ia juga turun tangan langsung mengerjakan sejumlah aktivitas yang terkait dengan pembuatan perhiasan logam, mulai dari mencari lembaran logam, menggergaji, mengelas, melelehkan, dan mengukir logam hingga finishing. Baginya, semua pekerjaan ini sangatlah menyenangkan hingga ia kerap lupa waktu. ”Kadang baru tidur jam 03.00 dini hari, dan pagi-pagi sudah kembali lagi masuk studio melanjutkan pekerjaan.”
Awalnya, aneka aksesori logam karya Yanna seperti kalung, gelang, dan bros, dinikmati sendiri dan teman-teman dekat. Tapi lama-kelamaan, banyak orang terpikat pada kecantikan dan keunikan aksesori logam itu. Tak pelak, Yanna pun kebanjiran pesanan. Kewalahan memenuhi pesanan itu, akhirnya ketua ASEPHI (Asosiasi Eksportir Produsen Handycraft Indonesia) Jawa Barat ini merekrut karyawan untuk membantunya memproduksi aksesori-aksesori cantik itu.
Produk andalan Yanna yang juga pengurus HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) Jawa Barat ini antara lain gelang, kalung, bros, tusuk konde, dan jepitan dasi. Desainnya cenderung natural dengan bentuk-bentuk seperti dedaunan, bunga, semut, capung, dan kupu-kupu. ”Awalnya, saya membuat produk model abstrak tapi di pasaran kurang peminat, makanya sekarang lebih ke produk bersifat natural,” papar desainer perhiasan logam yang rajin mengikuti pameran ini. Mengenai peminat, Yanna mengatakan, perhiasan logam diminati oleh orang-orang tertentu. ”Hanya orang-orang pede (percaya diri), educated, dan memiliki jiwa art yang menyukai dan memakai aksesori logam.”
Agar bisa dijangkau oleh kalangan masyarakat yang lebih luas, Yanna menjual karya-karyanya dengan harga bervariasi. Aneka aksesori untuk para remaja bisa diperoleh dengan harga Rp 25 ribu - Rp 100 ribu. Sementara aksesori untuk orang dewasa dijual dengan kisaran harga Rp 50 ribu - Rp 1,5 juta. Yanna juga menerima pesanan aksesori pengantin yang bisa diperoleh dengan harga Rp 3 juta.
Salah masuk kelas
Kecintaan Yanna pada dunia logam ternyata berawal dari ketidaksengajaan. Hal tak sengaja ini terjadi pada 1993 ketika ia dan keluarganya berada di Amerika Serikat (AS). Saat itu, Yanna sebenarnya berniat melanjutkan kuliah di Universitas Colorado jurusan fiber glass. Tapi di luar dugaan, ia salah masuk kelas. Bukan kelas fiber glass, melainkan kelas logam. ”Ketika itu saya terkesima melihat karya-karya indah dari metal. Kalau bahasa sekarang, kelas ini gue bangeeet deh. Makanya tanpa pikir panjang saya langsung apply,” katanya. Maka, jadilah ia special student di Metal Smithing Studio, Art Department, Colorado State University. Dari delapan mahasiswa yang kuliah di jurusan logam itu, Yanna satu-satunya yang berasal dari Indonesia.
Pilihan Yanna pada dunia logam terbukti tidak salah. Kepiawaiannya mendesai perhiasan logam menempatkan dirinya sebagai salah satu desainer ternama di Indonesia. Sejumlah penghargaan, baik nasional maupun internasional, disabetnya. Salah satu karya Yanna berupa kalung dari metal berbentuk daun yang diberi nama Taste of The Fall mendapat penghargaan Seal Of Excellence dari UNESCO pada 1995. Setahun berikutnya, kalung metal yang diberi nama Moon I terpilih menjadi koleksi di museum bergengsi Art Gallery of the Northern Territory di Darwin, Australia.
Kemudian, dalam pameran Mutumanikam yang digelar di Jakarta pada pertengahan Desember 2006, karya Yanna berupa kalung logam yang dipadukan dengan rotan menjadi idola pengunjung. Diberi nama Dialog with Nature, perhiasan itu mendapat penghargaan sebagai karya terbaik untuk kategori desain modern Indonesia.
Puaskah Yanna dengan semua pencapaiannya? Ia mengaku bersyukur dengan apa yang telah diraih. Hanya saja, masih ada satu hal yang ingin dipelajari Yanna. ”Saya harus belajar berbisnis.” Yanna mengaku, selama ini karya-karyanya dibuat lebih karena hobi dan kesenangan, sehingga tidak ada target apapun. ”Percuma kalau pandai membuat sesuatu tapi tidak tahu pasar, modal bisa habis.”
Biodata:
Nama : Yanna Diah Kusumawati Pendidikan : Seni Rupa ITB, Jurusan Desain Interior Anak:
Rangga Jantan (27 tahun)
Patria Bangga (25 tahun)
Label: Yanna Design Ethnic Expression & Modern Touch Jewelry Workshop : Jl Setiabudi 227-C Bandung Telp. 022-7010908 Showroom : Jl Pandu 24 Bandung Telp. 022-70823124 Email : yannadiah@yahoo.com
Salam Kenal,
Saya Agus di Jakarta, mau coba usaha pembuatan bros/gantungan kunci di Rumah untuk cari tambahan.
Mba Yana, mohon maaf sebelumnya
Beri saya informasi dong, bagaimana caranya
dan alat apa yang dibutuhkan untuk melelehkan
logam tembaga, atau logam ringan lainnya seperti
anak kunci bekas, atau uang logam lama.
Saya mau coba membuat bros yang sederhana.
Model sudah saya buat pakai lilin, lalu saya buat cetakannya gunakan semen. idenya dengan cara dituang, tapi enggak tau cara melebur logamnya
sementara saya coba pakai timah, hasilnya lumayan bagus. kalau berhasil buat cari-cari tambahan dirumah mbak.
Bantuan MBak saya saya harapkan
Salam
Ada yang bisa kasih info, Beliau buka kelas untuk pelatihan tidak.?
Saya salah seorang yang menyukai desain keluaran yanna jewellery
koleksi yang saya punyai semuanya dari kuningan, lebih etnik
desainnya sangat elegan dan kharismatik.
Saya Nur Aini, sempat setaun les di UK Maranatha bdg dibwh didikan bu Yanna. bu Yanna itu seorang pendidik yang hebat! dia mendidik hati dan pikiran dan gak pelit untuk ngasih ilmu. kalau ada yg mau ikut kursus dia, ya… daftar aja di Maranatha, biasanya selalu buka awal semester kuliah. jadi rajin2 liat tanggal akademis maranatha yup…. lama waktu belajarnya satu semester… Beliau ngajar teknik crafmanship plus prinsip dasar desain…
Sewaktu SMK Saya sempat ditempatkan Praktek kerja Industri (PRAKERIN) Selama 3 bulan di workshopnya Ibu Yanna dan begitu banyak ilmu & pengalaman yang sangat berharga,hingga sekarang saya menjadi seorang desainer jewelry di sebuah perusahaan terkemuka di jakarta.Bu yanna is the best manager.
mbak yaa sya udah 15th berkecimpung di dunia kerajinan perhiasan perak emas dan imitasai lain kebetulan saya 2th lalu menikah dengan cewek sunda dan posisi saya sekarang di gresik tiap setahun sekali saya pulang ke bandung dan kebetulan saya ketemu dengan nnjmbak meskipun di internet saya pingin jadi pengusaha kerajinan yang sukses bolehkah saya ikutan pelatihannya sekalian administrasinya berapa berapa bulan
Mbak Yanna,
Saya Mona dari Jakarta……….
saya ingin sekali belajar bagaimana caranya melebur tembaga atau logam lainnya, hingga dapat dibentuk apa saja sesuai dengan keinginan kita, contohnya gantungan kunci atau pin. Dan alat apa saja yang diperlukan untuk menunjang pembuatannya.
Bolehkah saya mengikuti pelatihannya?
kapan jadwal kursusnya dan berapa biaya administrasinya?
Makasih
daftar aja di Maranatha, biasanya selalu buka awal semester kuliah. jadi rajin2 liat tanggal akademis maranatha yup…. lama waktu belajarnya satu semester…